Monday, 1 February 2016

Belajar Dari Kiki Ramal

Beberapa hari yang lalu, saat mengikuti salah satu agenda di balai desa; Kiki Ramal (bukan nama sungguhan), salah satu kawan baru itu memang senang sekali berbicara. Sebenarnya aku senang kalau menyimak orang lain berbicara. Selain kita bisa mendapatkan beberapa pengetahuan baru, tentu menyimak orang lain yang berbicara juga akan membuat kita tahu tentang siapa orang itu secara tersirat. Tetapi lambat laun, ada yang membuatku kurang sepaham dengan apa yang dia bicarakan.
Setelah salah satu seorang kawanku selesai berbicara tentang salah satu program Sedekah Sosial yang digagasnya, Kiki Ramal langsung saja menyambar dan langsung mengusulkan "Kenapa sedekah tidak dilakukan saat bulan ramadhan saja? Kan nanti pahalanya bisa berlipat?" Kira-kira seperti itu usulan Kiki Ramal yang sontak menyanggah gagasan cerdas dari kawanku di dalam forum terbuka itu.
Aku pikir usia Kiki Ramal lebih senior dari kawan-kawan yang berada di tempat itu, tetapi, "Wah, kayaknya ada yang kurang bener," umpatku dalam hati waktu itu. Makin lama, Kiki Ramal justru cenderung mengunggulkan program sedekah yang hanya dilakukan di bulan ramadhan saja. Aku pikir, memang ada yang salah dengan Kiki Ramal. Dan sepertinya memang benar, bahwa kedewasaan kadang enggak melulu dilihat dari seberapa banyak umur kita, tetapi diukur dari cara berpikir dan cara menyikapi sebuah keadaan.
Di dunia ini, ada manusia memang senang mendengarkan orang lain berbicara kemudian mematahkan pendapat orang lain secara tiba-tiba - mungkin agar terlihat lebih pintar. Ada manusia yang ingin diperhatikan orang lain, tanpa tau caranya memperhatikan orang lain - mungkin karena tak pernah mendapat perhatian. Ada manusia yang senang berbicara dan menyanggah semaunya, tanpa mau tahu seperti apa keajaiban-keajaiban yang akan diterima dikemudian harinya.
Alangkah lucunya jika dalam pemikiran manusia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri dari kemiskinan dan kesulitan tanpa melihat sekelilingnya. Lalu, kenapa Kiki Ramal malam itu bersikukuh untuk meringkas Sedekah Sosial hanya dilakukan di bulan ramadhan saja? Padahal, bukankah manusia adalah makhluk sosial - yang senantiasa membutuhkan bantuan orang lain sewaktu-waktu untuk hidup secara merdeka? Kalau ada yang sakit parah, dan kita sebagai orang yang lebih waras ingin bersedekah pada si sakit, apa harus menunggu dibulan ramadhan? Toh, sebaik-baik manusia adalah mereka yang ikhlas berbuat baik dan bermanfaat untuk orang lain - tanpa harus menunggu pahala berlipat di bulan ramadhan - kan?
Tak usah kawatir. Aku percaya, Tuhan menyediakan pahala yang melimpah setiap harinya - asal kita sungguh-sungguh berusaha lho ya. Lalu, kenapa masih menunggu melakukan sedekah menunggu bulan ramadhan tiba? Saat ini pun kita bisa melakukannya, bukan?
Ya, di hidup kita masing-masing, semoga kita tetap jadi sebaik-baik pemberi. Jangan jadi Kiki Ramal. Tak usah berpikir rumit soal sedekah. Selagi masih ada waktu, bergegaslah sedekah! Sebab, musibah dan bencana tidak bisa mendahului sedekah.

Monday, 11 January 2016

Hujan Selalu Punya Cerita


Sore itu, awan mendung kembali menyapa langit senja. Butiran air perlahan membasahi tanah. Hujan menyambangi bumi lagi.

Hujan adalah kesedihan. Hujan adalah kenangan. Hujan adalah pembelajaran. Hujan adalah kebahagiaan. Begitu pula hujan adalah kasih sekaligus kisah bagi masing-masing makhluk Tuhan. Hujan selalu punya cerita, entah sederhana, suka, duka, pun bahagia.

Manusia adalah makhluk pembenci dan pecinta setiap kejadian. Tak terkecuali terhadap hujan. Hujan sore itu cukup deras sepanjang perjalanan menuju sekolah adik. Walaupun manusia sudah membuat alat penangkal hujan berupa jas hujan yang bisa dipakai saat mengendarai motor, tapi hujan entah kenapa masih membasahi beberapa bagian tubuhku. Maklum, jas hujan abal-abal. Hujan semakin deras menyambangi bumi sewaktu aku sampai di sekolah adik. Aku lepas helm yang ku pakai. Memastikan bahwa air mata langit tak terlalu membasahi celana dan kaus yang aku pakai. Setelah menggendong tas milik adik didepan, aku sesegera memakai helm. Kembali menerjang hujan dalam perjalanan.

Agak jauh dari sekolah itu, genangan air memenuhi jalanan. Pengendara melaju pelan-pelan dengan kendaraan pribadi mereka masing-masing. Tak jarang para pengendara motor atau mobil pun seketika menjadi pembenci hujan. Lalu, dititik ini apakah hujan bersalah? Atau manusianya yang bersalah karena kebiasaan buang sampah tak pada tempatnya?

Sejujurnya ini seperti sebuah 'rasa', hujan tak pernah datang dengan maksud yang buruk. Tetapi, mungkin keadaan dan manusia sendiri yang membuatnya menjadi buruk. Karena hujan selalu punya tujuan baik ketika turun. Hujan memberi harapan ditiap tetes air yang mengalun. Hujan membuat tumbuhan harum dan berbunga. Pun hujan membuat manusia belajar untuk tumbuh dewasa - termasuk didalamnya untuk belajar membuang sampah pada tempat yang semestinya.

Tentang hujan, memang sudah sedari dulu tertuliskan dalam mantra semesta, bukan? Aku harap kita bisa sedikit lebih memahami: ... sesungguhnya Kami telah turunkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran - mantra semesta nomor 25 ayat 50. Aku bukan mau kelihatan agamis dan menggurui dengan mengutip mantra semesta di atas, tetapi memang kurang lebih begitulah bunyi dari mantra semesta nomor 25 ayat ke 50.

Jadi, apakah hujan bersalah? Apakah kita sebagai manusia yang bersalah? Aku tak benar-benar tahu. Barangkali kita bisa bertanya pada diri kita masing-masing.

Dan di atas itu semua, ada sesuatu yang senantiasa ku harapkan disaat hujan. Aku ingin selalu bisa merasakan pluviophile tiap kali hujan menyambangi bumi. Lalu, disela-sela hujan membasahi bumi, semoga matahari mau berbaik hati sejenak biaskan rintik gerimismu, kemudian ciptakan pelangi indah untukku.

Tuesday, 1 December 2015

Sang Juara


Keringat membasahi pipinya yang sudah mulai keriput. Lelaki paruh baya itu masih berusaha mengayuh sepeda tuanya, ditemani burung-burung dalam sangkar yang diboncengkan dibelakang. Sejak matahari mulai terbit dari ujung timur, lelaki itu menyurusi jalan-jalan pedesaan, memasuki gang-gang sempit dan melewati rumah-rumah penduduk. Udara pagi masih terasa segar. Burung-burung yang ada disangkar saling bersiulan – berlomba-lomba untuk mendatangkan rezeki bagi lelaki itu.

Di gang sempit yang cukup banyak penduduk, orang-orang hanya memandang sekilas lelaki paruh baya yang lewat itu. Melihat lelaki penjual burung yang lewat, beberapa anak yang sedang bermain petak umpet disebuah kebun mencoba menyapa lelaki paruh baya itu – “hati-hati dijalan, kek” – sambil melambaikan tangan. Lelaki penjual burung itu mengangguk, memandang anak kecil itu, tersenyum. Tak jauh dari kebun itu, seorang pehobi burung yang sedang memandikan burung dipelataran rumahnya menyapa lelaki penjual burung itu, – “Laris pak dagangane...” kata pehobi burung dengan logat jawanya – lalu pehobi burung itu kembali sibuk memandikan burung kesayangan miliknya. Lelaki itu coba mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum memandang orang yang menyapanya itu – “Diadusi sing resik manuke, ben do sehat.” – imbuh lelaki penjual burung itu dengan logat jawa juga. Sementara itu, sang penjual burung masih terus mengayuh dan menjemput rezeki yang entah masih bersembunyi dimana. Sampai siang ini belum ada satu pun burung yang laku terjual.

Usaplah keringat yang mengalir membasahi keningmu. Angkatlah keatas dagumu yang tertunduk layu. Jangan menyerah... Jangan mengalah...

Matahari sudah terlihat berada di sisi sebelah barat. Detik-detik terus berdetak menemani lelaki itu mengayuh sepeda tua miliknya. Lapar dan haus menguasai dan melilit perutnya. Lalu, ia memutuskan berhenti sejenak di salah satu pos ronda. Berusaha mengusap butiran-butiran keringat yang mengalir membasahi pipinya. Sambil menarik napas panjang, ia mencoba mengambil kantong plastik bekal air mineral dari istrinya daari rumah. “Apa kabar pemberi bekal air mineral ini?” tanyanya dalam hati. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya, sejenak mengistirahatkan tubuh tuanya. Memejamkan mata dan mencoba mengistirahatkan lelah yang melingkupinya. Ada senyum lapang yang tiba-tiba mendinginkan suasana. Ia teringat istri dan anaknya yang ada dirumah – “Semoga mereka baik-baik saja” – bisik lelaki tua itu dalam hati.

Hampir satu jam lelaki paruh baya itu beristirahat di pos ronda. Tak ada seorangpun yang menyapa, atau melihat-lihat burung yang ia bawa.

Adzan asar tengah berkumandang tatkala ia masih berada di pos ronda. Suara adzan telah membangunkan lelaki itu dari istirahatnya. Masjid hanya berjarak beberapa puluhan meter dari tempatnya beristirahat. Ia berniat untuk sekaligus menunaikan kewajibannya pada-Nya. Dimasukkannya kembali air mineral kedalam plastik dan menaruhnya di sepeda bagian depan. Lelaki itu melepas topi yang ia pakai dan mengipas-kipaskan topi itu kewajahnya, sambil berkata pada dirinya sendiri – “sudah hampir sore, belum ada satupun burung yang terjual.” – lalu lelaki itu berusaha mengusap keringatnya lagi, lantas meneruskan langkah menuju pelataran masjid untuk menunaikan kewajiban Asharnya.

Selepas menunaikan kewajibannya, lelaki paruh baya itu duduk diserambi masjid, sambil memandangi burung-burung miliknya yang berada dalam sangkar.

“Berapa harga burung yang ini pak?” Tanya seseorang laki-laki bertopi merah yang tiba-tiba berada disamping sangkar-sangkar burung miliknya. Laki-laki itu menunjuk sangkar berwarna hijau.

Pertanyaan itu seolah memecahkan kristal-kristal keresahannya. Dengan cekatan, lelaki paruh baya itu menegakkan tubuhnya dan berjalan menghampiri laki-laki bertopi merah itu.

“Sing ten kandang ijo 35 ribu, Pak.” Jawab lelaki paruh baya itu. Masih dengan logat jawanya.

“25 ribu, boleh ya?”

Dereng angsal nek 25 ewu, pak – belum boleh kalau 25 ribu, pak.” Lelaki penjual burung itu melengkungkan senyum ramah. Sambil mencoba berpikir – “Nek 30 ewu angsal, Pak. Mang pundut mboten nopo-nopo. Manuke waras kok, Pak – Kalau 30 ribu boleh, Pak. Silahkan diambil tidak apa-apa. Burungnya sehat kok, Pak. ” Lelaki paruh baya itu berusaha meyakinkan laki-lai bertopi merah yang menawar harga burung itu.

“Ga boleh 25 ribu ya?” tanya orang itu lagi.

Lelaki penjual burung itu hanya tersenyum. “Dereng balik modal, pak.” Lagi-lagi lelaki tua itu tersenyum ramah. Sambil berusaha mengencangkan tali sangkar burung di sepeda tuanya.

“Ya sudah, saya beli burung yang ini.” Sambil menunjuk burung di sangkar berwarna hijau.

Kemudian lelaki penjual burung itu mengambil burung di sangkar warna hijau itu dan dimasukkan kedalam wadah. “Ini, saya wadahkan disini pak.” Kata lelaki paruh baya itu, mencoba menjawab menggunakan bahasa Indonesia setelah memasukkan burung itu ke bekas wadah semen yang sudah ia beri beberapa lubang kecil.

Pembeli burung itu menyodorkan uang lima puluh ribuan, “Ini uangnya.” Kata pembeli burung itu.

Lelaki penjual burung itu mencoba berpikir sejenak. “Alit mawon artone. Wonten, Pak? – kecil saja uangnya. Ada, Pak?” tanya penjual burung itu.

“Kembaliannya ambil saja.” Kata seorang pembeli burung itu.

Deg. Sejenak napas lelaki paruh baya itu tertahan. “Wah, tidak apa—apa ini pak? Terimakasih banyak, Pak. Semoga burungnya selalu sehat dan Bapak selalu diberi kemudahan rezeki, serta dimudahkan dalam setiap urusan...”

“Amin.” Pembeli burung itu tersenyum. Kemudian berpamitan dengan penjual burung itu.

“Alhamdulillah. Semoga rezeki ini bisa menjemput rezeki-rezeki lainnya.” kata penjual burung itu dalam hati.

Keringat adalah hasil. Jerih payahmu terbayar dengan semangat yang kau ambil. Terbang tinggi menuju awan, dimana kau bisa lupakan semua lawan.

Lelaki penjual burung itu kembali meneguhkan kayuhan-kayuhan sepeda tua miliknya. Ia bergegas menyusuri rezeki lain yang ia yakini akan ia bawa pulang untuk anak dan istrinya. Meski masih dengan keadaan lapar yang melilit perutnya, lelaki paruh baya itu masih kuat mengayuh sepeda miliknya.

Senja sebentar lagi akan mengepakkan sayapnya. Lelaki penjual burung itu tiba disebuah pasar di salah satu desa yang cukup jauh dari rumahnya. Disana ada beberapa pedagang keliling yang berkumpul; penjual sayur, penjual mie ayam, siomay, es rumput laut, bahkan mainan anak-anak. Ditempat inilah biasanya para pedagang keliling berkumpul.

“Sudah laku berapa burung, Pak?” Tanya penjual es rumput laut.

“Sekarang jualan burung keliling kalau hanya bawa burung kecil-kecilan susah.” Jawab lelaki penjual burung dibubuhi dengan sedikit tawa.

“Sama, Pak. Sekarang jualan mainan anak-anak juga susah. Mainan anak-anak sekarang bagus-bagus dan harganya mahal-mahal. Sedangkan saya hanya jualan mainan murah-murahan.” Keluh penjual mainan sambil menggeleng-gelenkan kepalanya.

Beberapa penjual keliling tertawa. Tawa mereka seolah melepaskan beban yang berada dipundak mereka. “Namanya juga pedagang keliling, Kek.” Sahut penjual es rumput laut yang sedang meracik semangkuk es rumput laut.

Buat apa menangis, jika masih ada senyum. Buat apa kau mundur, jika hidup berjalan maju. Bila kau terjatuh, segera bangkit dan bangun, pisatkan pikiran dan tetap melaju.

“Minum dulu, kek.” Sambil menyodorkan semangkuk es rumput laut pada lelaki penjual burung itu. “Pasti haus dan lapar. Sudah hampir jam 4 sore lebih kakek baru sampai sini. Biasanya ashar sudah sampai sini.” Imbuh pemuda penjual es rumput laut yang kira-kira lebih muda 40 tahun dari lelaki penjual burung itu.

Lelaki penjual burung itu tersenyum. Ia sudah tak dapat menahan haus, betapa segarnya es rumput laut itu jika membasahi mulutnya yang kering itu. “Wah, terimakasih, nak.” Ujar lelaki paruh baya itu sambil tersenyum.

Penjual es rumput laut itu ikut tersenyum. Ada senyum yang perlahan-lahan merambat dan melaju ke pusat syaraf miliknya – “Kakek adalah lelaki yang hebat. Setiap hari berkeliling menjual burung berpindah dari desa ke desa. Ia terus melangkah dan mengayuh sepeda hingga kepelosok-pelosok desa. Hingga terkadang menginap di pasar, dan terkadang baru pulang kerumah bertemu istri dan anaknya 3-5 hari sekali. Tergantung berapa burung yang sudah laku. Menjual burung dengan berkeliling barangkali adalah salah satu dari bermacam cara menjemput kebahagiaan-kebahagiaan hidupnya.” Kata penjual es rumput itu dalam hati.

Ada tetes air yang mengalir dari tebing kedua mata penjual es rumput laut itu. Melihat betapa lahapnya sang kakek menikmati es yang ia buat. Merasakan betapa hebatnya perjuangan dan kuatnya kakek itu. Masih berusaha menjemput rezeki miliknya walaupun kulitnya sudah mulai keriput, rambutnya banyak yang memutih, dan topi veteran sisa-sisa perjuangan kemerdekaan masih dipakainya dengan gagah.

Bagi orang lain, menjual burung dengan berkeliling dan berpindah dari satu desa ke desa lain memang tak pernah mudah. Tetapi, lelaki paruh baya itu melakukannya dengan dan bahkan tanpa ada rasa beban. Lelah, lapar, panas oleh sinar matahari, dan haus adalah teman sekaligus sahabat baiknya ketika ia memasuki usia senja.

Setiap langkah, setiap jiwa, di tiap langkah mulai bercerita wakilkan semua mimpi-mimpi yang tenggelam. Siap menantang bumi, dan kau adalah pemenang!

*

Malam itu, dipasar tempatnya tadi bercakap-cakap dengan para penjual keliling lainnya, lelaki penjual burung menghabiskan waktu hingga pagi tiba. Bersama beberapa pedagang sayur yang juga menginap dipelataran pasar sewaktu menunggu kiriman sayur dari pasar pusat. Ditemani suara kantong plastik beterbangan, dan suara jangkrik saling bersahutan. Lelaki itu sudah terbiasa untuk tak pulang jika sudah mengayuh sepeda puluhan kilometer. Ia menyadari bahwa untuk bisa pulang, membutuhkan waktu yang tak sebentar. Tersebab hal itulah, ia lebih memilih untuk menginap dipasar atau dipelataran masjid, dan kemudian esok melanjutkan perjalanan menjemput rezeki-rezeki dan berkah lain yang sudah disediakan untuknya.

Lelaki paruh baya itu tahu, hidup memang terkadang susah dan tak mudah. Tetapi, ia selalu percaya bahwa dibalik kesusahan dan perjuangan selalu ada kemudahan, pun kebahagiaan-kebahagiaan. Maka, tak heran lagi jika dia terus berusaha melangkah dan mengayuh sepeda tua miliknya – menjajakan burung-burung di sangkar yang berada sepeda tua miliknya – meski kulit keriputnya semakin melemah.

Ia tak mau dikalahkan oleh rasa ragu dan lemah. Ia tak mau mudah menyerah dan mengalah. Karena ia tahu bahwa ia punya tanggungjawab yang besar untuk istri dan anak yang ada dirumah. Ia tak mau mengecewakan, sekaligus membuat sedih orang-orang yang senantiasa membuatnya merasa berbahagia - istri, anak dan orang-orang yang selalu mendukungnya.

Dalam tidurnya malam itu disudut pelataran pasar, wajah lelaki itu terlihat berbahagia. Melengkungkan senyum tenang. Walaupun hari ini hanya terjual satu burung, tetapi rasa syukur atas nikmat yang sudah Tuhan berikan padanya membuat malamnya terasa sempurna. Karena ia tahu perjuangan masih belum selesai, masih ada hari esok yang menunggunya. Masih ada pengorbanan yang harus dan senantiasa ia lakukan untuk menjemput kebahagiaan-kebahagiaan yang Tuhan sediakan...

...Bangunkan bangkitkan semangat juangmu hingga membara. Yakinkan pastikan inilah puncak segalanya. Jangan menyerah... jangan mengalah... berbanggalah... karena kau adalah... Sang Juara!


----------------------------------------------------------------


*backsounds : Bondan & Fade2Black - Sang Juara
*foto diambil dari salah satu grub "jual beli burung disolorya oleh mas Gingsol Cuakep"