Tuesday, 11 August 2015

Demikianlah Caraku Mencintai-Mu


Kupanjatkan doa kepada Tuhan. Dengan hati, jiwa, dan ragaku – setiap  hari sepanjang hidupku. Tiap tarikan nafas, sungguh, aku berjanji akan berusaha jalani hidupku untuk-Mu. Oh Allah, telah Kau hidupkan kembali jiwaku, dan cahaya-Mu sinari hatiku.

*

1  bulan yang lalu –

Aku sekarang bisa lebih mengerti, kenapa saat ini Allah mengujiku lagi. Menguji ketangguhanku. Barangkali inilah salah satu cara Allah menyayangi dan mencintaiku. Walaupun dengan cara yang bahkan tak dapat ku ketahui dan prediksi.

Ini adalah tentang ayahku. Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, dokter ternyata memvonis bahwa kini ayah menderita penyakit yang membuatnya harus melakukan terapi rutin cuci darah setiap 2 minggu sekali. Beberapa orang mengatakan kalau terapi cuci darah mungkin akan menghabiskan banyak uang. Itu memang tak dapat di pungkiri lagi. Sekali melakukan cuci darah tidak hanya cukup dengan bermodal seratus ataupun dua ratus ribu saja. Sesekali melakukannya bisa mencapai satu juta rupiah, bahkan lebih.

Aku masih bersyukur atas hal ini. Mungkin dengan cara ini aku bisa lebih mengabdikan diri pada keluarga pun pada orang-orang yang ada disekelilingku. Walaupun aku harus bekerja lebih giat dan berusaha lebih tangguh lagi untuk kesembuhan ayah, itu semua tak kan menjadi masalah. Akan aku lakukan apapun untuk kesembuhan dan kebahagiaan ayah, asalkan halal dan mendapatkan keberkahan. Itulah janjiku dalam hati. Karena beberapa waktu lalu separuh kebahagiaanku – seorang perempuan yang sudah melahirkanku, kini telah menjadi kekasih Allah. Dan aku, tak mau sesuatu yang sama terulang dalam waktu dekat untuk kedua kalinya. Kini, yang bisa kulakukan hanya mengabdikan diri pada separuh kebahagiaanku yang masih ada didekatku, yaitu ayahku. Berdoa, bekerja keras selagi aku bisa, dan membuat ayah pulih dan bahagia adalah tugasku!

*

2 bulan yang lalu –

Kita tak kan pernah tahu kapan Allah akan memberi kita cobaan, menghadirkan rintangan, memberi kita kebahagiaan, pun mendekatkan kita pada kematian. Manusia hanya bisa berencana sebaik-baiknya, dan Allah-lah dengan gelar Sang Maha Kuasa, cepat atau lambat pasti akan memberikan jawaban atas setiap rencana kita.

Bagi beberapa orang, mungkin penyakit yang diderita ibuku tak semenakutkan apa yang kini sedang diderita ayahku. Bahkan beberapa orang berkata penyakit ibuku tak begitu berat. Aku tahu itu. Nanti pasti akan cepat sembuh. Itulah harapan sekaligus doa beberapa orang yang sudah datang menjenguk ibuku saat itu.

Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit, setelah keadaan ibu cukup pulih, dokter yang besuk pada siang itu memperbolehkan ibu untuk rawat jalan. Ini artinya ibu diperbolehkan untuk pulang. Begitulah pemikiranku sebagai orang awam. Betapa bahagianya hatiku, melihat ibu sudah diperbolehkan untuk pulang. Syukurku tak henti-hentinya aku ucapkan pada-Nya atas ini semua. Dan, entah bagaimana caranya senyum ibuku saat itu seolah mendamaikan hatiku dan keluarga.

Tak selang beberapa waktu, aku dan kakakku membawa ibu pulang, sore itu juga. Kami tak punya cukup banyak biaya untuk bisa merawat ibu dirumah sakit lebih lama lagi. Pendapatan ayah dan pendapatanku tak bisa digunakan lebih lama lagi untuk biaya pengobatan ibu. Maka dari itu, setelah mendapat ijin dari dokter, kami sekeluarga segera dan sigap mengambil keputusan untuk membawa ibu pulang.

Manusia hanya bisa berencana sebaik-baiknya, dan Dialah dengan gelar Sang Maha Kuasa cepat atau lambat akan memberikan jawaban atas setiap rencana manusia. Belum ada sehari ibu genap berada di rumah, ternyata Allah sudah berkehendak lain. Manusia tak kan pernah bisa mengetahui apapun rencana Allah. Rencana-Nya adalah mutlak! Setiap yang ada di dunia, alam semesta, manusia, tumbuhan dan hewan, bencana, kematian, semua adalah milik-Nya.  

Barangkali inilah salah satu sekenario terbaik-Nya untukku. Tak ada yang bisa menyangka Allah telah memanggil ibuku hanya selang beberapa jam saat ibu sepulang dari rumah sakit. Mungkin memang berat. Bahkan amat sangat berat. Terlebih lagi kehilangan seseorang keluarga yang sangat kita sayangi. Tapi, bukankah sudah tersiratkan di surat kedua, ayat ke 286, bahwa setiap manusia tak akan diberi cobaan melebihi kemampuan hambanya, bukan?

*

Kini, setelah sepeninggalan ibuku, rasa-rasanya aku tak ingin lagi kehilangan ayahku juga. Ah, mungkinkah ini salah satu skenario terbaik Allah untukku? Aku selalu percaya, bahwa setiap manusia selalu diberi ujian dan cobaan setara dengan kemampuannya masing-masing. Dan, pada dititik ini aku bisa lebih mengerti. Bahkan bisa lebih belajar bersyukur dari semua ini. Pada titik ini, aku masih punya ayahku. Walaupun memang benar, kini ibuku sudah dipanggil oleh-Nya, beberapa waktu lalu.

Ayahku. Ya, dialah lelaki yang sudah dipilih Allah untuk menjadi ayah bagiku. Dialah lelaki dengan penuh kesabaran telah membesarkanku hingga saat ini. Dialah lelaki yang selalu membuatku merasa baik-baik saja. Dialah lelaki yang selalu menjadi tulang punggung keluargaku, adik dan kakak-ku. Dialah lelaki yang kini menjadi kebanggaanku.

Oh Allah, Aku bersyukur atas-Mu selalu. Apa yang kuungkapkan, takkan pernah cukup. Kau masih menitipkan ayah pada keluarga kecil ini. Kau masih memberi kami kesempatan untuk menjaga ayah dengan segala kekuatan kami. Kau beri kekuatan tuk mengatasi ketidakpastian. Dan kau beri kekuatan tuk berdiri tangguh melawan segala rintangan. Oh Allah, kini Engkaulah satu-satunya tujuan dan tempat bersandarku. Demikianlah aku berusaha mencintai-Mu, dan barangkali dengan cara inilah Kau berusaha menunjukkan rasa cinta-Mu padaku.

Aku tahu bagaimana rasanya memiliki cinta berharga-Mu dalam hidupku. Aku tahu bagaimana rasanya menemukan kedamaian di hatiku. Menemukan kedamaian saat ibu masih bersama kami, menemukan kedamaiaan saat ayah masih bisa melakukan pekerjaannya sehari-hari untuk kami. Oh Allah, aku bersyukur atas-Mu selalu. Setelah Engkau memanggil ibuku, Kau dengan segala kekuasaan-Mu masih memberi kesempatan padaku untuk bisa lebih mengabdikan diri pada ayahku.

Oh Allah, sungguh aku bersyukur. Andai semua orang bisa melihat. Betapa cinta dan kasih-Mu telah mengalir, membebaskanku, mengetuk dan membuatku lebih tangguh. Oh Allah, sungguh aku bersyukur. Maka, mungkin dengan cara inilah aku berusaha mencintai-Mu : Engkaulah satu-satunya tujuanku, dan berbakti pada ayahku adalah salah satu impian besarku...

O Allah, I’m forever grateful to You
Whatever I say could never be enough
You gave me strength to overcome my uncertainties
And stand firm against all the odds
So pleasing You is now my only goal
Oh I love You so
I love You so

...karena sungguh seluruh hidupku, keluargaku, malamku, hartaku, bahkan doa-doaku – semua adalah untuk-Mu.


-----

*Cerita kecil ini terinspirasi seorang sahabat. Semoga ia selalu diberi kesabaran, kekuatan, ketabahan, serta keteguhan untuk selalu berusaha tetap berada di jalan yang ia inginkan - dijalan kebaikan dan kebenaran. Karena dia tahu bahwa semua yang berada di alam semesta ini semua adalah milik-Nya, dan kelak akan kembali pada-Nya pula.

*Backsounds : Maher Zain - I Love You So

Wednesday, 22 July 2015

Surat Untuk Beta



Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang kedua bernama Beta. Lalu, adik bungsuku bernama Gamma. Kami tinggal tak jauh dari salah satu kota di pantai pesisir utara. Beberapa orang menyebutnya sebagai 'Bumi Para Wali'. 

Pantai Boom. Kami sering menghabiskan sore di tempat itu. Salah satu tempat favorit sekaligus pantai yang kami sukai. Salah satu tempat yang bisa digunakan untuk menikmati dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Pun juga bisa digunakan untuk menikmati senja bersama kekasih tercinta. Tapi entah kenapa, hal itu tak pernah sekalipun berlaku untuk kami. 

Waktu berlari cepat sekali. Matahari berwarna jingga tenggelam cepat. Beta, si gadis cantik yang hobi bermain piano itu kini pergi entah kemana. Kami tak pernah benar-benar tahu. Dua tahun yang lalu gadis itu memutuskan pergi dari rumah, meninggalkan kami semua - sebagai keluarga. Kami tak pernah benar-benar tahu alasan kenapa ia pergi meninggalkan kami semua.

Tetapi, diatas itu semua, doa kami untuknya tak pernah sekalipun berubah. Sejak pertama kali ia berpamitan meninggalkan kami semua. Kami selalu mendoakan apapun yang terbaik untuknya. Apapun yang sedang dilakukannya. Apapun yang sedang dilaluinya.

Sore itu, di senja tepi laut yang jingga, hanya tinggal kami berdua yang masih asik memancing ikan; menikmati indahnya hidup sebagai orang pinggiran. Aku dan Gamma. Hanya berdua saja.

Ah, barangkali yang bisa kami lakukan hanya menitip doa dan rindu untuknya. Aku harap Tuhan mendengarkan, menyampaikan sekaligus menyentuh hatinya.

: Semoga gadis itu selalu Kau jaga dan baik-baik saja.



dari seorang kakak yang mengaku tulus menyayangimu,

Alfa.

(Tuban, April 2015)

Tuesday, 21 July 2015

Terbang Bersama


Mari ikut mengenal Semesta. Menikmati birunya langit cakrawala. Megakrabi hijaunya hutan dan pepohonan. Menyusuri ombak-ombak di lautan. Menapak bersama udara dingin di ketinggian-ketinggian. Dengan segenap rasa suka dan duka tentunya.

Jadi, mari terbang bersama dan mengenal semesta - sekaligus mewujudkan impian-impian kita.

Bagaimana?


(Tuban, April 2015)