Kirana Kanaya Dewanda


Salam sayang untukmu, adik kecilku : Kirana Kanaya Dewanda. Selamat menghabiskan usia di bulan ke-delapan, sayang. Teruslah menyapa orang-orang disekelilingmu dengan senyum tulus yang lucu itu.

*

Kiran sayang, lebaran kali ini entah kenapa seolah terasa istimewa bagiku. Walau hanya bisa bertemu denganmu 2 hari saja, tapi aku rasa pertemuan denganmu sudah cukup membuatku merasa gembira. Betapa tidak, bersama dengan berjalannya waktu, dibulan kedelapan selepas kelairanmu – di momen lebaran tahun ini, kau telah menjadi penyebar kegembiraan dirumah nenek dan kakekmu.

Mungkin memang benar apa kata beberapa orang, menatap bola mata kecilmu yang hitam selalu menyenangkan. Pipi chubby-mu entah kenapa selalu menggemaskan, dan senyum lembut yang penuh keceriaan itu tak pernah gagal melahirkan kerinduan bagi orang-orang. Ah, kiran sayang, kehadiranmu seolah telah menjadi magnet kebahagiaan untuk orang-orang didekatmu : Papa, Mama, keluarga, dan mereka yang ada disekelilingmu. Ya tentu saja. Diusiamu yang menginjak bulan ke delapan ini : kau begitu menggemaskan!

Kiran sayang, bicara sedikit tentang dunia, jika kelak kau sudah mengenali bumi ini lebih jauh lagi dan tumbuh semakin dewasa, aku ingin, senyum lembutmu akan selalu kau bawa. Aku harap senyum yang sederhana itu akan selalu melahirkan kerinduan bagi orang-orang kebanyakan. Karena mereka yang baik akan selalu dirindu dan dielu-elukan. Paling tidak, berbuat baiklah untuk dirimu sendiri terlebih dulu. Lalu, jika itu sudah, berusahalah berbuat baik ataupun sejenak menularkan senyum untuk orang-orang yang ada disekelilingmu, Kiran. Jangan berhenti berbagi kebaikan : Jadilah perempuan cantik bukan hanya karena fisik, tapi juga karena hal-hal baik yang kau sebar dan tularkan.

Tentang impian, Kiran. Jika kelak kau punya beberapa impian atau mungkin berjuta bahkan bermilyar impian, selagi raga masih bisa, perjuangkan saja. Jangan mudah menyerah. Jadilah seperti Mamamu. Dulu, sebelum Mamamu memutuskan untuk menikah dengan Papamu, ia adalah salah satu perempuan pekerja keras. Bahkan saat mengandung kakak perempuanmu, Mamamu masih berjuang dan memilih untuk tetap bekerja supaya bisa ikut membantu Papamu mencukupi kebutuhan keluarga kecilmu. Ah, Kiran sayang, semoga kelak kau bisa mewarisi darah pekerja keras Mama dan Papamu, serta sanggup memperjuangkan impianmu satu persatu hingga titik lelah terdalam.

Lalu, bagaimana jika usaha kerasmu berujung pada kegagalan? Tak apa, Kiran. Jika ditengah jalan impian itu gagal, anggap saja itu adalah sebuah pembelajaran. Tak semua impian orang-orang bisa menjadi kenyataan, kan? Tak apa jika gagal, setidaknya kau sudah mencoba. Itu sudah lebih baik daripada hanya berandai-andai dalam pikiran : Jadilah perempuan yang lebih suka mengkonversi impian menjadi kenyataan – bukan hanya sebatas perkataan, pun angan-angan.

Kiran sayang, jika kelak Tuhan mencoba hatimu dengan ujian yang paling sakit, luka yang amat menyayat, pun beban yang cukup berat, syukuri saja. Jika kau ada waktu untuk bersedih, bersedihlah. Lalu setelah itu sudah. Bersedih dan merasa sakit boleh, tapi jangan berkepanjangan. Kesedihan dan kesakitan selalu punya masa kadaluarsa, Kiran. Jika masa itu sudah habis, aku yakin kau akan menjadi perempuan yang lebih bercahaya dari sebelumnya. Percayalah. Jangan biarkan rasa sedih dan sakit mengalahkanmu. Dengan atau tanpanya, aku harap kau tetap akan senantiasa melangkah dan menatap kedepan. Saat Tuhan memberi kita cobaan, saat itulah kita punya bahan pijakan supaya bisa menjadi lebih hebat dan bertambah kuat. Ah, ya benar. Mungkin cara kerja Tuhan memang seperti itu, Kiran. Jadi, jangan mudah menyerah. Aku yakin, suatu saat nanti kau akan jadi perempuan yang tangguh. 

Kiran sayang, jika tilisanku ini terlalu berlebihan dan tak keruan menurutmu, maafkan kakakmu ini. Aku hanya terlalu gembira bisa menikmati 2 hari di momen lebaran tahun ini bersamamu. Itu saja sudah cukup. Ah, ya, semoga pada masamu kelak, kau masih ada waktu untuk bisa membaca surat kecil ini. Entah kapan, aku akan sangat bahagia jika kelak kau mau membaca tulisan ini. Kapan pun itu.

Akhir kata, tetaplah berbahagia dengan hal-hal kecil yang kau punya. Jangan lelah untuk berbuat baik, Kiran. Cubit pipi, cium, dan peluk paling erat dari kakakmu.

*

Kiran sayang, teruslah menyebarkan senyum tulus untuk mereka yang ada disekelilingmu. Tetaplah menjadi cahaya untuk mereka. Hidup ini indah. Tersenyumlah. Jangan lelah membuat orang-orang merasa bahagia dan bangga karena kehadiranmu dalam hidup mereka. Hidup ini singkat, berbahagia dan tertawalah bersama sahabatmu esok. Kejar impian hingga lelah menghantam. Tumbuhlah menjadi perempuan cantik dengan bermilyar impian dan penuh kerendahatian.

Sekali lagi, selamat menghabiskan usia di bulan ke-delapan, sayang. Kami semua menyayangimu.

0 Response to "Kirana Kanaya Dewanda"

Post a Comment